Sabtu, 19 Maret 2011

MENGHIDUPKAN SEMANGAT PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA DENGAN METAPHORMING

Oleh: Nur Arifah Drajati

Menjadi suatu pertanyaan besar bagi para pendidik bahwasanya kita mengalami kemandegan dalam system pembelajaran kita. Banyak siswa yang mengeluh adanya pelajaran yang luar biasa banyak dan semuanya menuntut tugas –tugas yang harus diselesaikan tepat waktu serta ujian-ujian yang tiada habisnya. Disisi lain adalah gerutu guru-guru yang tidak hanya mempersiapkan tugas, soal ujian serta tugas-tugas administrasi yang luar biasa banyaknya. Akhir dari satu cerita ini adalah suatu keputus asaan yang terus bertumpuk dan tiada batas yang kemudian terlupakan seiring dengan waktu.
Baik guru, siswa, dan juga pemegang keputusan yaitu para pimpinan sekolah mengalami hal yang sama yaitu bagaimana mencari kebermaknaan dalam suatu pembelajaran. Semua ahli di bidang pendidikan dan juga para psikolog mengatakan dan memastikan bahwa semua siswa memiliki potensi untuk menjadi seorang yang pandai atau jenius. Hanya bagaimana cara kita sebagai guru dapat menggali potensi mereka sehingga para siswa ini menjadi seseorang yang optimal dan mendapatkan manfaat dari proses belajar.
Disini guru dituntut untuk dapat memfasilitasi siswa sehingga mereka menjadi seorang yang jenius dan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat disekitarnya. Satu proses yang harus dilalui dan metaforming adalah proses yang dapat dilalui dengan cara yang natural dimana para guru dapat mengoptimalkan kreativitas, menemukan dan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran mereka dengan komunikasi yang baik dan jelas kepada siswanya.
Kata metaforming adalah kata yang berasal dari kata Yunani yaitu meta dan phora yang memiliki makna tindakan yang mengubah sesuatu yang bermakna. Ini diawali dengan memindahkan makna baru dan mengasosiakan beberapa ide menjadi suatu ide yang baru. Dapat dikatakan bahwa metaphorming adalah suatu pemikiran yang mendalam dan kreatif. Inilah awal dari pemikiran yang jenius. Pemikiran ini memiliki tujuan yang riil dan bermanfaat yang menggunakan seluruh daya upaya semua organm tubuh kita sehingga menjadi suatu kesatuan yang mengarahkan kita menuju pemikiran yang essential . Pemikiran inilah yang akan membawa siswa menuju percepatan dalam berpikir, berkreasi, menemukan suatu hal yang baru, dan menghubungkan semua hal yang terlihat tidak berhubungan menjadi hal yang saling terkait dan pada akhirnya bermuara pada penyelesaian masalah. Pembelajaran ini akan meningkatkan dan memperkaya pengalaman belajar dan meningkatkan komunikasi baik antara guru-siswa, guru-guru, guru-pimpinan sekolah, dan kepala sekolah-siswa.
Kita lahir dengan kemampuan untuk berkreasi, menggali potensi, belajar, pencarian dan juga kemampuan untuk menemukan. Dan hanya beberapa orang yang bisa mentransform ide, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Sering kita tidak menyadari kemampuan itu dan sering juga kita tidak tahu apa yang kita akan lakukan dengan kemampuan itu. Tanpa keberanian dan bimbingan, kita akan menyia-nyiakan kemampuan kita menuju pemikiran yang innovative dan kreatif. Konsekwensi dari sikap kita ini menjadi suatu hal yang menakutkan bagi kita atas pemikiran kita sendiri dan menghakimi diri kita sendiri sehingga menjadi manusia yang takut atas kreatifitasnya sendiri.
Dalam hati kecil kita mengatakan bahwa kita ingin memiliki ide-ide cemerlang dan memiliki pengalaman yang tidak terlupakan. Tetapi bagaimana cara kita dalam mengelola imaginasi kita menjadi suatu kenyataan?
Dengan metaphorming, kita coba untuk menggali siapa diri kita dengan ide-ide cemerlang kita. Ada 4 tahap dalam proses metaphorming yaitu connection (koneksi), discovery (penemuan), invention (penciptaan), dan application (aplikasi). Mari kita kupas satu-persatu 4 tahap metaphorming ini.
1. Connection (koneksi)
Koneksi yang dimaksud disini adalah menghubungakan dua atau lebih yang memiliki tujuan untuk memahami sesuatu. Berhubungan dengan metaforming, koneksi ini menggunakan berbagai macam bentuk dari perbandingan yaitu:metafora, analogi, cerita, legenda, simbol, dan hipotesis. Kita bisa menggunakan semua alat-alat ini untuk menghubungkan ide, pengetahuan dan pengalaman. Sebagai contohnya adalah pada saat Leonardo Da Vinci mengasosiakan pikirannya atas cabang atau ranting pohon dengan kanal yang didesainnya di Florence. Dia mengatakan bahwa sebuah kanal adalah seperti ranting pohon. Jika kita implementasikan kedalam pembelajaran adalah pelajaran bahasa Inggris akan berhubungan dengan pelajaran yang lainnya seperti teknologi, psikologi, atau bahkan bisa dihubungkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Dan jika kita mengupas satu mata pelajaran sebagai misal pelajaran matematika, geometri (bangun ruang), maka tema ini juga akan berhubungan dengan seni, bahasa, ekonomi, teknologi, fisika. Secara riil adalah pada saat belajar matematika, maka guru dapat menghubungkannya dengan materi lain sehingga siswa memiliki bayangan bahwa yang dipelajarinya adalah berhubungan juga dengan pelajaran lainnya. Sehingga guru dan siswa tidak akan terjebak ke dalam suatu kotak yang membatasi pikiran mereka. Justru, dari pemikiran koneksi inilah, baik guru dan siswa menjadi seorang yang kreatif.
2. Discovery (penemuan)
Suatu penemuan melibatkan pengamatan dan pengalaman. Penemuan ini akan mengarahkan seseorang untuk menemukan sesuatu dengan memanfaatkan lima panca inderanya yaitu mengamati, mendengarkan, merasakan, dan bahkan panca indera penciuman. Seorang Leonardo Da Vinci dalam mendesain kanal Florence memanfaatkan lima panca inderanya sehingga menjadi suatu imaginasi yang dituangkan dalam kenyataan. Dia menggambar kanal tersebut dengan segala kemungkinannya dan tidak takut jika terdapat kesalahan. Leonardo memikirkan alternative yang mungkin dilakukan untuk membangun kanal tersebut. Dengan gambaran yang telah dilakukan oleh Leonardo, dia dapat memahami bagaimana air mengalir di kanal tersebut.
Dalam suatu pembelajaran yang riil, guru dapat menggambarkan kearah mana pelajarannya akan dibawa, tujuan apa yang akan dicapai setelah proses koneksi atau menghubungkan telah dilakukan. Kearah mana siswa diajak untuk berpikir dan memiliki pengalaman untuk merasakan bahwa suatu pelajaran bermanfaat untuk dirinya. Sebagai misal adalah pada saat siswa belajar bahasa Inggris, guru akan mengarahkan bahwa tujuan akhir dari pelajaran ini adalah untuk komunikasi baik secara lisan ataupun tertulis. Tetapi bukan hanya itu. Seorang guru bahasa Inggris juga harus melakukan koneksi dengan pelajaran lain, misalnya sosiologi, seni, ekonomi, teknologi, ataupun juga fisika. Sehingga siswa memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan berpikir bahwa tidak sia-sia dalam belajar bahasa Ingris.
3. Penciptaan
Suatu penciptaan adalah produk dari daya pikir kreasi. Hal ini tidak akan tercipta tanpa adanya suatu usaha. Secara umum, penemuan tumbuh dari suatu kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan suatu proses dalam melakukan sesuatu atau melakukan suatu komunikasi yang baru dan lebih efektif.
Suatu penemuan memerlukan suatu proses dari menghubungkan sesuatu dengan yang lain, dan juga memerlukan pengamatan yang dapat menghasilkan suatu produk. Sebagaimana contoh diatas, dari aktifitas Leonardo Da Vinci yang menghubungkan dan menemukan desain kanal Florence. Setelah itu, Leonarde menciptakan system pengairan dengan hidrolis untuk mengatur air di kanal tersebut.
4. Application (aplikasi)
Aplikasi adalah aktifitas yang mengarah pada produk yaitu hasil piker dan dapat juga dalam bentuk riil yaitu barang. Dari imaginasi, pengamatan, dan juga menemukan, maka Leonardo Da Vinci mengembangkan penciptaanya atas Kanal Florence dengan mengaplikasikan imaginasinya menjadi suatu sumber bagi pengembangan ilmu yang lain sebagai contohnya adalah adanya teori bentuk aliran air. Aplikasi ini akan mengalir terus seiring dengan kebutuhan manusia untuk memperoleh lkemudahan dalam melakukan sesuatu.
Dalam suatu pembelajaran dikenal adanya produk dari suatu hasil kreasi siswa. Disini guru dapat mengarahkan siswanya untuk menuliskan apa yang didapat dari pengetahuan, baik dari guru maupun dari buku-buku yang dibaca oleh siswa. Guru dapat mengarahkan siswanya untuk menuliskan summary dari berbagai buku dan mengarahkan siswa untuk mencari solusi atas masalah yang ada. Bagi guru yang dapat mengarahkan siswanya untuk dapat menghasilkan suatu produk, maka produk-produk tersebut dapat menjadi alat belajar juga bagi siswa lain. Sebagai misal adalah temuan alat belajar , kotak cerita, dan sebagainya. Siswa diarahkan untuk menjadi seorang yang siap menghadapi pendidikan abad 21, yaitu menjadi seorang yang memahami bagaimana komunikasi yang efektif, mengenal dan memanfaatkan teknologi, menjadi seorang yang siap bekerja dengan tim (teamwork), seorang yang kritis (critical thinking, dan pemecah masalah (problem solver). Dari sini, bukan hanya siswa tersebut yang memperoleh manfaatnya tetapi diharapkan juga siswa yang lain dapat belajar untuk berkreasi.
Sangat luar biasa sekali jika metaphorming ini dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah. Tidak hanya siswa yang dapat belajar tetapi guru juga dituntut untuk berkreasi untuk dapat membawa siswa-siswanya menjadi orang yang kreatif dan dapat mengembangkan diri menjadi pengamat dan seorang kreator. Dengan metaphorming ini diharapkan bahwa guru sebagai pendidik benar-benar menjadi seorang fasilitator yaitu mengarahkan dan mendidik siswa menjadi seorang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga masyarakat disekitarnya.

 

Minggu, 16 Januari 2011

Mengelola Perilaku Buruk Peserta Didik Yang Ringan Di Kelas


Mengelola Perilaku Buruk Peserta Didik Yang Ringan Di Kelas

Oleh: Irwan Safari, S.Pd (Guru SMPN 10 Bengkalis- Riau)


Dalam upaya meyukseskan keberhasilan dunia pendidikan, guru tidak hanya bertugas mentransfer informasi pengetahuan yang tertulis dalam buku-buku teks pelajaran saja. Lebih dari itu, seorang guru dituntut memiliki teaching skill atau kemampuan mengajar yang memadai, mempunyai strategi pengajaran yang tepat, dan mampu memberikan solusi bagi setiap permasalahan yang dihadapi anak didiknya untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Sebab proses pembelajaran yang berlangsung dalam lingkungan belajar yang efektif akan mampu membawa peserta didik kepada sebuah pembelajaran yang bermakna bagi keberlangsungan kehidupannya di masa yang akan datang.
Namun demikian, pada saat proses pembelajaran berlangsung adakalanya guru dihadapkan pada situasi-situasi yang diluar prediksi tentang perilaku peserta didiknya. Secara umum biasanya adalah gangguan yang relatif kecil untuk sebuah efektifitas proses pembelajaran, seperti berbicara diluar giliran, bangkit tanpa permisi, tidak berhasil mentaati prosedur kelas, keluar dari situasi pembelajaran dengan aktifitas individunya dan sebagainya. Masalah-masalah seperti ini pada prinsipnya lumrah untuk dipahami bagi seorang guru dalam menjalankan tugasnya mengelola pembelajaran di kelas. Namun bukan berarti guru bisa membiarkan dan cuek dengan situasi yang terjadi, yang secara tidak langsung apabila dibiarkan dalam waktu yang lama dan berkelanjutan akan memberikan dampak negatif terhadap capaian proses pembelajaran yang diinginkan.
Dalam mengatasi masalah buruk yang rutin, guru diminta berlaku bijak dalam membuat keputusan untuk sebuah tindakan yang dinilai paling tepat dan efisien. Sebab kesalahan dalam mengambil tindakan untuk merespon perilaku-perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran yang berlangsung tentunya akan mengganggu bahkan dapat merugikan peserta didik lain yang sedang menikmati proses pembelajaran tersebut. Apabila benar-benar memungkinkan, proses harus tetap berlangsung terus sambil setiap masalah perilaku yang buruk dapat diatasi. Untuk itu Evertson et al (2003) dalam Slavin (2009) mengemukakan strategi untuk mengatasi masalah perilaku buruk yang rutin sebagai berikut:
Pertama, Pencegahan; perilaku buruk peserta didik dapat dicegah dengan menyajikan pelajaran yang menarik dan hidup, menjelaskan peraturan dan prosedur kelas, mengupayakan siswa tetap sibuk dalam tugas-tugas yang bermakna, dan menggunakan teknik manajemen kelas yang efektif lainnya. Selain itu juga guru dapat menggubah isi pelajaran, menggunakan berbagai jenis bahan dan pendekatan, memperlihatkan humor dan antusiasme, dan menerapkan pembelajaran kerja sama atau pembelajaran yang berbasis proyek yang semuanya dapat mengurangi masalah perilaku buruk yang diakibatkan oleh kebosanan.
Kedua, Isyarat Nonverbal; guru dapat menghilangkan banyak perilaku buruk rutin di kelas tanpa memutus daya gerak pembelajaran melalui penggunaan isyarat non-verbal (nonverbal cue) sederhana. Misalnya kontak mata dengan peserta didik yang berperilaku buruk, bergerak menghampiri, tepukan ringan di bahu, dan sebagainya. Sebab isyarat nonverbal hanya mempunyai efek terhadap siswa yang berperilaku buruk tanpa mengganggu aliran konsentrasi bagi banyak orang lain.
Ketiga, Memuji perilaku yang bertentangan dengan perilaku buruk; pujian dapat menjadi sarana motivasi yang ampuh bagi peserta didik. Untuk mengurangi perilaku buruk bisa dilakukan dengan memastikan untuk memuji peserta didik atas perilaku yang bertentangan dengan perilaku buruk yang ingin dukurangi. Maksudnya, tangkaplah peserta didik dalam tindakan yang benar dan berikan pujian pada saat ada diantara mereka yang berperilaku buruk.
Keempat, Peringatan lisan; apabila isyarat dan pujian dirasakan mustahil atau tidak efisien, peringatan lisan sederhana dapat dijadikan pilihan untuk mengatasi masalah perilaku buruk peserta didik. Peringatan tersebut seharusnya diberikan langsung setelah peserta didik berperilaku buruk, sebab peringatan yang ditunda biasanya tidak akan efektif. Dan yang terpenting adalah peringatan tersebut menyatakan apa yang seharusnya dilakukan peserta didik, bukan membicarakan apa yang telah dilakukannya dengan keliru. Sebab kalimat peringatan positif akan mengkomunikasikan harapan yang lebih positif bagi perilaku masa depan peserta didik. Juga, peringatan seharusnya terfokus pada perilaku, bukan pada peserta didiknya.
Kelima, peringatan berulang; kadang-kadang peserta didik menguji ketetapan hati guru dengan tidak melakukan apa yang telah diminta dari mereka biasanya dengan berdalih ataupun membantah. Ujian ini akan hilang secara perlahan jika peserta didik belajar tentang gurunya yang bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan dan akan mengambil tindakan yang sesuai untuk menegakkan lingkungan kelas yang teratur dan produktif. Ketika peserta didik menolak untuk mentaati peringatan sederhana, selanjutnya bisa dilakukan dengan mengulangi peringatan tersebut dengan mengabaikan setiap dalih atau bantahan yang tidak relevan.
Keenam, Menerapkan konsekuensi; Konsekuensi adalah hukuman yang mesti diberikan kepada peserta didik yang tidak taat. Konsekuensi karena tidak mematuhi permintaan guru seharusnya sedikit tidak menyenangkan, berlangsung singkat, dan diterapkan sesegera mungkin  setelah terjadi perilaku buruk. Satu hal yang harus diingat oleh guru dalam menggunakan strategi ini bahwa kepastian jauh lebih baik dari pada kekejaman, karena kekejaman hanya akan melahirkan kebencian dalam diri peserta didik dan perilaku yang menyimpang. Konsekuensi yang ringan tetapi pasti mengkomunikasikan kepedulian terhadap peserta didik bahwa ia berhak memulai sesuatu yang baru setelah menerima konsekuensi dari perlaku buruknya.
Kemampuan seorang guru dalam mengelola perilaku buruk yang rutin akan bergantung pada situasi dan konteks perilaku yang terjadi. Sehingga dapat dilakukan dengan strategi yang tepat untuk proses pembelajaran yang bermakna dan produktif, memberikan kesan yang bermanfaat untuk masa depan peserta didik.    

Menjadi Guru Yang Sukses

Kesuksesan seorang guru bukan dilihat dari besarnya gaji yang diterima dan besarnya tunjangan yang diperoleh, namun berapa banyak siswa yang dapat berubah kearah yang lebih baik. Menjalankan profesi guru dari hati merupakan sebuah motivasi terbesar untuk menjalankan tugas sebagai seorang pendidik dengan tujuan menghantarkan peserta didik untuk meraih kesuksesan. Untuk menjadi seorang guru yang sukses ada beberapa hal yang mesti dilakukannya:
Pertama, Hubungan yang harmonis antara guru dengan siswa; Guru adalah orang tua siswa disekolah. Keharmonisan hubungan antara guru dengan siswa akan memotivasi siswa untuk senang dengan gurunya. Kesenangan siswa terhadap seorang guru adalah langkah awal kesuksesan seorang guru. Sebagai seorang guru mesti berupaya untuk mengetahui keanekaragaman kecerdasan para siswa yang akhirnya berdampak pada keanekaragaman gaya belajar mereka. Kondisi ini menuntut guru tidak berhenti untuk belajar agar dapat melakukan inovasi dalam memenuhi gaya belajar siswa, dengan demikian hubungan antara guru dengan siswa akan semakin erat, karna siswa merasa kebutuhan cara belajar yang mereka kehendaki terpenuhi .
Kedua, Mengetahui tentang siswa; Siswa bodoh, siswa nakal, siswa rajin dan siswa pandai ini merupakan kalimat yang sering muncul apabila seorang guru ditanya apa yang mereka ketahui tentang siswa-siswanya. Mengetahui tentang siswa tidak terbatas pada mengetahui apa yang sering mereka lakukan di sekolah, karna guru tidak banyak tahu bagaimana kehidupan siswa di luar sekolah. Maka luangkan lah waktu untuk menyelami kehidupan siswa-siswa sehingga ini akan membantu guru bagaimana cara mengarahkan mereka kearah yang lebih baik. Tidaklah ilmiah seorang guru yang mengatakan siswa bodoh, siswa nakal bila tidak terlebih dahulu memahami banyak hal tentang siswa-siswanya.
Ketiga, Memiliki semangat pengabdian; Keikhlasan seorang guru untuk mengajar dan mendidik tanpa membatasi waktu hanya jam disekolah yaitu seorang guru yang selalu siap sedia kapan saja siswanya membutuhkan bimbingan dan arahannya. Keikhlasan seorang guru sebagai seorang pendidik dengan memberikan yang terbaik pada anak didiknya sebagai modal untuk meaih kesuksesan, maka kesuksesan menjadi seorang guru telah berada dalam genggaman.
Keempat, Penguasaan pengelolaan  ruang kelas; Ruang kelas adalah yang di dalamya akan dijumpai begitu banyak fonemena yang mengandung berbagai pelajaran tentang hidup dan pembentukan karakter siswa. Keanekaragaman tingkah laku siswa sesuatu yang sangat mengasikkan untuk diteliti dan dipahami. Isnawati (2010) menyatakan Untuk menjadi seorang guru yang sukses mesti mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengelola ruang kelas dimana proses pembelajaran berlangsung. Mengelola ruang kelas tidak hanya memberikan teguran dan berbagai macam peringatan kepada siswa sewaktu siswa membuat keributan. Namun bagaimana mengkondisikan sebuah ruang kelas yang penuh semangat, aktif dan memiliki motivasi yang tinggi agar para siswa dapat mempelajari berbagai macam karakter dari manusia-manusia yang ada di dalamnya.
Kelima, Belajar adalah kebutuhan; Belajar seumur hidup mesti menjadi semboyan yang dimiliki seluruh guru. Perubahan zaman yang juga berdampak pada perubahan cara siswa dalam menerima pembelajaran menuntut guru untuk terus melakukan inovasi dalam pembelajaran. tidak sedikit siswa yang bolos dari sekolah dengan alasan jenuh dengan gaya belajar guru. Seorang guru yang baru berumur 50 tahun tidak membaca buku dengan alasan tidak memiliki kemampuan lagi menerima apa yang dibaca merupakan salah satu penyebab kegagalan pendidikan. Karena menganggap mengajar hanyalah sebuah rutinitas yang mesti diselesaikan. Siswa-siswa berhak mendapatkan lebih dari gurunya mereka berhak mendapatkan hal yang paling berarti dalam hidup mereka melalui kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan bersama guru disekolah.

Selasa, 21 Desember 2010

Kualitas Guru Yang Positif


Memilih jalan hidup untuk menjadi seorang guru adalah suatu pilihan yang tepat dan mulia. Namun setiap pilihan memang dihadapkan kepada sebuah konsekuensi, termasuk pilihan untuk menjalani profesi guru. Karena guru memang memikul beban tanggung jawab yang sangat berat sebagai the agent of change, dalam menentukan arah masa depan suatu bangsa. Kriteria kemuliaan yang disematkan pada guru ditentukan oleh kualitas guru secara individu yang pada akhirnya memberikan imbas pada kelompok profesi ini.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dewasa ini mengantarkan kita kepada perubahan paradigma yang begitu cepat. Salah satunya bagaimana intensitas kompetensi guru menjadi perhatian berbagai pihak untuk tetap eksis mengikuti perubahan tersebut.  Sederhananya adalah saat ini dan dimasa yang akan datang dibutuhkan guru yang memiliki kualitas positif untuk memenuhi harapan tentang sebuah kemuliaan profesi. Seorang guru dapat dikatakan mulia dan memiliki karakteristik yang memiliki kualitas positif jika didalam dirinya terdapat diantaranya beberapa kualitas khusus sebagai berikut:

Profesional
Aspek terpenting dalam menentukan keberhasilan sebuah profesi adalah sikap profesional. Seorang guru harus profesional agar dapat menjadi guru yang berhasil. Konsep guru profesional mansyaratkan adanya keahlian khusus dan dalam bidang terntentu. Guru harus memiliki kompetensi yang baik tentang materi pelajaran yang diampunya. Apabila seorang guru tidak menguasai bidang ilmu yang diajarkannya secara mendalam maka lunturlah profesionalisme guru tersebut. Dengan pemahaman seperti ini jelaslah bagi kita bahwa tidak semua orang bisa menjadi guru, dan tidak semua orang yang telah menjadi guru dapat dikatakan guru yang profesional.
Karena guru selalu identik dengan citra kemanusiaan, maka menjadi guru yang benar – benar profesional tidak dapat ditawar lagi dengan memperhatikan beberapa unsur berikut:
a.       Memiliki kemampuan intelektual yang memadai, terutama pada mata pelajaran yang diampunya.
b.      Memiliki kemampuan dalam memahami visi dan misi pendidikan sehingga mampu membuat skala prioritas tentang tanggung jawabnya secara terarah.
c.       Memiliki kompetensi pedagogik yang memadai untuk mampu memilih dan memvariasikan pendekatan ataupun metode pembelajaran sehingga anak didik selalu haus akan proses pembalajaran.
d.      Memiliki kemampuan yang baik tentang konsep memahami siswa. Seorang guru harus mampu berada pada dunia siswa secara utuh dalam rangka menggiring mereka kepada pembelajaran yang telah direncanakan.
e.       Guru harus kreatif dan memiliki seni mendidik yang tinggi. Sehingga mampu melakukan inovasi pembelajaran yang pada akhirnya siswa merasa nyaman dan menikmati proses pembelajaran yang terjadi.
f.       Guru yang profesional memiliki pandangan jauh kedepan dengan terus berusaha mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya.

Kepribadian (Personality)
Sebagai sosok yang digugu dan ditiru, guru harus memiliki integritas dan kualitas personal yang baik dan benar. Karena selain menyampaikan informasi tentang ilmu pengetahuan (mentransfer ilmu) guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian siswa. Untuk memiliki kualitas kepribadian yang tinggi sebagai seorang guru, beberapa hal berikut dapat menjadi acuannya, yaitu:
a.       Taqwa kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.
b.      Selalu berpenampilan prima dengan selalu merawat diri baik fisik maupun mental.
c.       Menjadi sosok yang bijaksana dalam segala hal.
d.      Ceria dan menjadi motivator yang baik bagi orang yang berada disekelilingnya.
e.       Mampu mengendalikan emosi amarahnya.
f.       Menghargai sesama manusia tanpa deskriminasi.
g.      Bersyukur kepada Tuhan akan kehidupannya.
h.      Tidak terkontaminasi oleh sifat-sifat tercela seperti sombong, ria, tidak jujur dan sebagainya.
i.        Penuh tanggung jawab, luwes, dan loyal kepada amanah yang diberikan.

Sosial
Seorang guru adalah manusia yang pada hakikatnya hidup berkelompok dalam kumpulan masyarakat tertentu. Guru adalah bagian dari masyarakat dimana saja ia berada. Dengan demikian guru tidak mesti memisahkan diri dari masyarakat tersebut, namun justru sebaliknya guru harus mampu berada ditengah masyarakat tersebut dengan menonjolkan nilai-nilai postif tentang diri dan profesinya. Guru yang berkualitas positif mampu menjalin hubungan baik antara sesama makhluk sosial dengan menebarkan kebaikan dan motivasi yang terpancar dari dirinya.

Guru yang berkualitas positif yakin dan sadar tentang dirinya sendiri bahwa ia adalah seorang guru yang baik, yang sedang melakukan pekerjaan besar. Dengan demikian seorang guru positif pandai menghargai waktu, memahami keadaan fisik dan mental siswanya, memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik, intensional, empati, dan juga inovatif kreatif.

Sabtu, 18 Desember 2010

Humanisasi Pendidikan

Belakangan ini bangsa ini dihadapkan kepada masalah yang kompleks tentang perilaku dan pola pikir generasi penerus yang semakin hari semakin menghawatirkan di tengah kemajuan dan melajunya proses pembangunan secara umum. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam segala aspek kehidupan suatu sisi memberikan harapan yang menggembirakan, namun disisi lain ada hal yang sangat menghawatirkan tentang kelangsungan kehidupan dimasa yang akan datang. Sebagaimana yang selalu kita saksikan melalui media tentang kemerosotan moral, buruknya akhlak, dan hilangnya sosok yang bisa dijadikan teladan. Para generasi bangsa ini seperti sudah sulit dalam menentukan arah dan menemukan acuan tentang segala tindakan yang dilakukan. Tidak banyak lagi yang berkeinginan menggunakan akal fikiran yang jernih dalam menyelesaikan masalah yang muncul. Setiap masalah selalu direspon dengan kekerasan sebagai jalan keluarnya.
Dibelahan bumi Indonesia yang lain para pemangku kebijakan masih tetap bersekukuh untuk bertegang urat leher dalam mempertahankan kebijakan pendidikan yang secara umum masih dikelilingi tanda tanya besar akan manfaat dan efektivitasnya. Sementara itu tujuan pendidikan nasional secara umum adalah untuk membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, generasi yang berakhlak, terampil, berilmu pengetahuan, dan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mengacu kepada sebagian kecil dari tujuan ini seyogyanya visi dan misi yang sudah dijelma mampu menjawab berbagai permasalahan yang muncul dalam beberapa waktu terakhir ini. Bangsa ini idealnya dikelola oleh genarasi yang memiliki intensioanal yang jelas tentang pembentukan dan pembinaan generasi yang dapat diandalkan melalui dunia pendidikan.
Lembaga pendidikan memiliki tugas mempersiapkan terbentuknya individu-individu yang cerdas dan berakhlak mulia. Kriteria cerdas dan berakhlak mulia ini yang memungkinkan terwujudnya kehidupan sosial yang ideal, yang diwarnai semangat mengembangkan potensi diri dan memanfaatkannya untuk mencapai kebahagian dan kesejahteraan bersama (Zuchdi, 2008). Dengan demikian perjalanan sejarah bangsa ini “dikemudikan” oleh generasi yang memiliki moral dengan melakukan tindakan yang bermoral.
Namun predikat Negara paling korup di Asia untuk Negara tercinta ini merupakan jawaban yang nyata tentang kualitas akhlak (moral) masyarakat Indonesia secara umum. Selain itu banyak konflik yang terjadi mulai dari skala kecil sampai yang sangat luas juga merupakan fenomena lain di tanah air ini tentang kurangnya individu yang bermoral yang mengaplikasikan tindakan bermoral tersebut.
Sistem pendidikan yang sesuai untuk menghasilkan kualitas masyarakat yang cerdas dan berakhlak mulia (berkarakter baik) adalah yang bersifat humanis (Zuchdi, 2008). Sistem ini menempatkan peserta didik (generasi penerus) sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang perlu dibantu dan didorong untuk memiliki kebiasaan efektif, nilai-nilai kehidupan yang positif dan membangun,  perpaduan anatara pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Perpaduan yang harmonis antara unsur -unsur tersebut menyebabkan seseorang atau sekelompok orang meninggalkan ketergantungan (dependence) menuju kemandirian (independence), dan saling ketergantungan (interdependence). Hal ini sangat diperlukan dalam mengikuti perubahan zaman yang sangat cepat yang diliputi berbagai masalah yang kompleks. Karena kehidupan yang semakin modern dan kompleks hanya dapat diatasi secara kolaboratif (Zuchdi, 2008).
Pengembangan kebiasaan efektif dilakukan melalui pendidikan dengan membekali peserta didik dalam mengubah persepsi. Kemampuan dalam mengubah persepsi negatif tentang potensi diri yang dimilikinya baik potensi fisik, mental, dan social/ emosional, maupun spiritual. Sebagaimana Covey (1990) mengungkapkan bahwa etika akhlak (character ethic) merupakan landasan keberhasilan yang berupa integritas, kerendahan hati, kesetiaan, keberanian, keadilan, kesopanan, kesabaran,  yang pada prinsipnya adalah upaya memadukan kebiasaan tertentu dengan nilai- nilai yang diperlukan.

Tujuh Kebiasaan Efektif

Kebiasaan merupakan perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan keinginan (Zuchdi, 2008). Pengetahuan merupakan paradigma teoritis, apa yang dilakukan dan mengapa dilakukan. Sementara keterampilan adalah cara melakukan, dan keinginan merupakan motivasi, dorongan untuk mengerjakan. Supaya memiliki suatu kebiasaan, ketiga hal tersebut harus dikuasai. Sistem pendidikan yang humanis memberikan wadah terhadap penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi. Karena sistem ini berorientasi pada proses pembelajaran yang menyatakan penggunaan pendidikan nilai komprehensif yang meliputi inklusi nilai (inculcation), pemodelan (modeling), fasilitasi (facilitation), dan pengembangan keterampilan (skill building). Secara rinci pemerolehan fragmen- fragmen tersebut tertuang dalam tujuh kebiasaan efektif sebagai berikut:
a.      Proaktif; proaktif berarti berinisiatif yang merupakan cerminan adanya tanggung jawab terhadap kehidupan sendiri.
b.      Mulai dengan memikirkan tujuan; orang yang memiliki kebiasaan ini mulai dengan pemahaman yang jelas tentang tujuan hidupnya. Karena hidup ini akan lebih bermakna apabila kita benar-benar mengetahui apa yang penting bagi kita dan selalu menyadari hal itu, kemudian mengelola diri sendiri untuk mengerjakan hal yang benar-benar penting.
c.       Prinsip manajemen pribadi; manajemen diri menghasilkan kepuasan, yakni kesesuaian antara realisasi dengan harapan yang dikelola dengan kompetensi pribadi.
d.      Prinsip komunikasi empatik; komunikasi merupakan keterampilan yang penting dalam kehidupan. Namun akan lebih sempurna bila kebiasaan memahami orang lain terlebih dahulu baru minta dipahami oleh orang lain terealisasi dalam keterampilan komunikasi yang dimiliki.
e.      Bersinergi; sinergi adalah esensi kepemimpinan yang berpusat kepada prinsip (principle centred leadership). Hakikat senergi adalah menghargai perbedaan, mengormati perbedaan tersebut, memanfaatkan kelebihan, dan mengompensasi kekurangan. Dengan demikian terbentuklah suatu prinsip kerja sama yang kreatif.
f.        Prinsip pembaruan diri secara seimbang; Shepherd mengutarakan bahwa kehidupan seimbang yang sehat adalah yang didasarkan pada nilai persepktif (spiritual), otonomi (mental), kebersamaan (social), dan suasana (fisik).
Investasi pendidikan yang mahal akan lebih terjamin dapat menjawab tantangan kompleksitas perubahan dengan mengembalikan pendidikan pada porsi memberikan bantuan kepada manusia sebagai manusia. Zuchdi (2008) mengatakan bahwa humanisasi pendidikan perlu segera dijadikan misi setiap jenjang pendidikan di Indonesia, supaya nilai- nilai dasar untuk mencapai keberhasilan benar- benar dijadikan landasan dalam pembentukan akhlak bangsa.